Hidup tanpa denyut jantung, rasanya nyaris mustahil. Tapi, D’Zhana Simmons, seorang remaja 14 tahun, jantungnya bukan hanya tidak berdenyut selama sekian detik, tapi sempat kolaps selama 4 bulan.
Melewati hidup tanpa detak jantung bukan hal yang mudah bagi gadis yang tinggal di Clinton, South Caroline, Columbia, Amerika Serikat ini. Sebelum menjalani dua kali operasi transplantasi jantung di sebuah rumah sakit di Miami, gadis itu sempat bertahan hidup tanpa kehadiran organ jantung sama sekali selama empat bulan dan hanya dibantu dengan pompa jantung buatan.
Pompa jantung berfungsi sebagai alat bantu ventrikular, biasanya digunakan pada pasien yang masih memiliki jantung guna membantu bilik mensirkulasikan darah.
Pembesaran jantung
D’Zhana didiagnosa mengalami pembesaran jantung sehingga organ vitalnya tersebut terlalu lemah untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Ia lalu dirujuk ke RS Anak Holt Miami untuk transplantasi. Namun, jantung baru D’Zhana tidak bekerja optimal dan berisiko pecah sehingga dokter mencabut jantung tersebut dua hari kemudian. Para dokter kemudian menanamkan sepasang alat pompa buatan untuk menggantikan fungsi organ jantung.
Ini adalah tindakan medis yang tidak biasa, terutama bagi pasien semuda D’Zhana. Dokter tampaknya tak punya pilihan lain dan harus menggunakan alat ini hingga pasien siap melakukan transplantasi kedua.
Dr. Peter Wearden, ahli bedah cardiothoracic di RS Anak Pittsburgh, yang pernah menggunakan alat pompa jantung sejenis, mengatakan apa yang dilakukan tim medis di Miami sungguh sebuah pertaruhan besar.
“Untuk lebih dari 100 hari, tanpa adanya jantung dalam tubuh seorang gadis? Ini sungguh luar biasa,” kata Wearden.
Dengan kondisi jantung D’Zhana yang dicopot, tim dokter di RS Anak membuat bilik jantung pengganti menggunakan sejenis alat yang terhubung pada dua pompa. Meskipun penggunaan jantung buatan telah disetujui untuk pasien dewasa, tetapi pemerintah federal belum memberikan izin bagi pasien anak.
Sejauh ini, memang hanya ada sedikit pilihan bagi pasien anak-anak atau balita karena kondisi yang mengancam jiwa seperti ini masih terbilang jarang. “Belum banyak perusahaan yang mau menginvestasikan alat atau teknologi jantung yang dapat membantu anak-anak,” kata Dr. Marco Ricci, ahli bedah jantung anak di Universitas Miami.
Nyawa D’Zhana pun nyaris melayang. Selama empat bulan, gadis belia itu kerap mengalami kesulitan bernafas, selain juga mengalami gagal jantung dan lever serta pendarahan pada sistem pencernaan.
